January 6, 2017

Efek Menyindir dan Nyinyir Orang Lain

Nyinyirlah Pada Tempatnya (edisi curhat realita masyarakat)



Gaya bahaya menyindir itu lebih lekat pada dua keadaan, memang menasehati dengan cara halus atau menjatuhkan secara halus. Misalnya saya ada masalah dengan fulan, ketika kumpul dalam majelis dimana disitu ada saya. Si fulan ini ngobrol dengan orang-orang dengan bahasa sarkas untuk menyindir saya... apakah sakit? Ya kalau "merasa" ya jelas sakit.. kalau "enggak merasa" ya cuek aja :)

Bisa jadi menyindir dilakukan secara langsung berhadapan face to face di depan orang banyak... apakah sakit? Ya kalau "merasa" ya jelas sakit.. kalau "enggak merasa" mana ada...la wong nyindir terang-terangan :v

Bisa jadi pula face to face cuma 4 mata.. apakah ini menyindir? Enggak juga.. lebih enaknya dikatakan menasehati secara sembunyi-sembunyi

Bahasa adil menempatkan omongan pada tempatnya memang kudu diperhatikan soub... saya melihat dengan mata sendiri gimana menyindir dimuka umum itu menjatuhkan orang dari jalan hidayah.

Diawal saya mengenal sunnah, saya harus berhadapan dengan masyarakat tradisional... saya dikatakan dajjal, pendiri agama baru dll... padahal saya sama tidak melontarkan kata "bid'ah" ke orang-orang. Cuma mereka melihat kami dari cara sholatnya saja... dan celana dilinting

Ditengah kecamuk ini, teman se-genk ternyata melindungi saya karena diantara kami ada yg berpengaruh dikampung (ditakuti karena mreman).

Beberapa teman sudah mulai ikut shalat jamaah, walau cuma isya' dan maghrib... saya tidak peduli dia masih merokok, yang penting dia mau shalat dl.. karena takutnya ketika langsung saya larang merokok mereka malah pada kabur... bahkan ada salah satu preman kampung yang mau ngaji iqra.. walau sehabis ngaji klepas-klepus rokokan...

Nah salah satu preman yang lengannya tatoan ini mulai rajin shalat shalat jamaah, habis sholat jamaah dia pasti mampir ke rumah saya sambil ngopi-ngopi dan ngomongin apa gitu termasuk isu kami yang kata orang ikut aliran sesat...

Tapi beberapa hari kemudian saya tidak pernah mendapati dia lagi shalat jamaah... penasaran saya pas ketemu saya tanya ke dia kenapa kok gak pernah nongol lagi jamaah di mushola?

Jawaban dia apa ternyata, "Wes males aku shalat, la bar sholat malah digojloki karo wong-wong, jare "tumben sholat... ambleg ngko langgare" "Wee tumben sholat rek...ati-ati ambrol nko temboke langgar"

Terjemah indonesia " Sudah malas saya shalat, la habis shalat malah dinyinyirin sama jamaah, katanya "Tumben shalat...roboh ntar musholanya" "Weee tumbe shalat bro...hati-hati runtuh ntar tembok musholanya"

Mendengar seperti itu saya sangat sedih sekali.. teman yang saya harapkan mendapatkan hidayah ini futur (down) gegara orang gebleg yang kurang hikmah dalam bicaranya..

0 komentar:

Post a Comment

 

Follow us